Tantangan dan Peluang Anak Muda dalam Dunia Kerja

Tantangan dan Peluang Anak Muda dalam Dunia Kerja

Apakah benar anak-anak muda kesulitan mencari kerja? Jika kita menilik pada data, jawabannya memang benar adanya, terutama di sektor formal. Dalam sebuah liputan di Kompas, diulas bahwa data 15 tahun terakhir menunjukkan penciptaan lapangan kerja di sektor formal terus menyusut. Fenomena ini tidak hanya terjadi secara nasional, tetapi juga terlihat di kota-kota seperti Malang.

Di Malang, saya belajar dari kawan-kawan yang sering menggunakan boso walikan dalam keseharian mereka. Mereka menggunakan kata “idrek”untuk menyatakan kerja. Menarik, kenapa bukan “ojrek”? Apakah ada yang tahu kenapa malah “idrek”?

Dari pemikiran saya, situasi di mana anak muda cenderung tidak banyak terserap di dunia kerja formal dipengaruhi oleh faktor latar belakang dan cara berpikir yang berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi senior cenderung menganut paham “KERJA KERAS”, dimana keberhasilan diukur dari seberapa keras seseorang bekerja. Sementara itu, generasi dewasa yang saat ini banyak memegang posisi penting adalah penganut paham “KERJA CERDAS”, yang menekankan efisiensi dan produktivitas.

Sedangkan, dalam pemahaman saya, anak muda saat ini cenderung menganut paham “KERJA KREATIF”. Mereka mencari cara-cara inovatif dan berbeda untuk mencapai tujuan mereka. 

Pemahaman lintas generasi ini penting agar pengambil kebijakan, pelaksana kebijakan, dan yang terdampak kebijakan bisa saling memahami dan berhubungan, atau seperti yang sering diucapkan anak muda sekarang, “relate”.

Agar situasi ini dapat berjalan baik, perlu melibatkan banyak sosok yang memahami dinamika saat ini. Mereka harus duduk bersama dan menata Kota Malang sesuai dengan identitas dan potensinya.

 Dengan demikian, kebijakan yang diambil dapat lebih efektif dan menjawab tantangan yang dihadapi oleh anak muda dalam mencari pekerjaan.

Baca tulisan lainya di jiren.id ya! Terimakasih sudah membaca 🙂

Contact

Artikel Lainya